Sunday, March 18, 2007

Ulin Makao - Sejarah

Aliran ini didirikan oleh Ki Abu Arwanta yang berasal dari Kampung Sawah, Pandeglang, Banten. Tahun persisnya aliran ini didirikan tidak diketahui dengan pasti. Namun, dilihat dari generasi ketiga aliran ini yang ketika mulai belajar terjadi pada zaman penjajahan Belanda dan penjajahan Jepang, sekarang ini berusia sekitar 81 s/d 96 tahunan, bisa diperkirakan aliran ini sudah ada sejak akhir abad XIX.

Ki Abu ini seorang pendekar muda yang telah mempelajari beberapa aliran pencak silat dari beberapa orang guru di banten. Konon, suatu ketika ia bertemu dengan seorang Cina, karena satu kesalah pahaman, maka terjadilah sambung tangan (istilah lain untuk berkelahi/ bertanding). Dalam sambung tangan itu, ternyata lawannya lebih unggul. Dengan sportif, Ki Abu mengakui keunggulan lawannya tersebut dan mulai berguru kepada orang Cina tersebut. (Yah, itulah budaya kita, kurang memperhatikan dokumentasi dan literer.) Namun, yang dapat dicatat bahwa orang cina tersebut berasal dari Cina Makao, memeluk agama Islam, dan sebelum dating ke Pandeglang ia sempat tinggal di Jakarta.

Selagi berguru, diam-diam Ki Abu merenung dan menganalisa kelebihan-kelebihan beladiri Cina yang didapat dari guru barunya itu. Masih terbayang dalam ingatannya bagaimana ia beberapa kali dijatuhkan dalam pertemuan yang pertama, padahal saat itu ia sudah berstatus sebagai guru silat dilingkungannya. Dari perenungannya, ia menyimpulkan dimana letak kelemahan dan keunggulan masing-masing. Timbul pemikiran untuk menggabungkannya sehingga masing-masing kelemahan tersebut dapat saling ditutupi.

Pada satu kesempatan latih tanding dengan gurunya, Ki Abu coba mempraktekan hasil perenungannya itu, dan ternyata berhasil. Kali ini gurunya tidak bisa mengalahkan Ki Abu, setiap serangannya selalu dapat digagalkan, bahkan serangan balik Ki Abu sering kali tidak dapat ditangkis atau dihindarkan. Disini jiwa sportif seorang pendekar sejati ditunjukan oleh orang Cina Makao tersebut, ia mengakui keunggulan ki Abu. Sejak itu ia menganggap Ki Abu sebagai kawan yang sederajat dan menjadi mitra diskusi dalam teknik-teknik beladiri.

Dari hasil diskusi keduanya, kemudian disusun suatu sistem beladiri baru yang sekarang dikenal dengan nama Ulin Makao (diambil dari tempat asal pendekar Cina), Ulin Abu (diambil dari nama Ki Abu Arwanta), Ulin Sawah (tempat Ki Abu tinggal).

Dari Ki Abu, aliran ini kemudian berkembang pesat, banyak murid-murid yang datang kerumahnya untuk belajar. Selain itu, Ki Abu punya kebiasaan berkelana ke beberapa tempat, termasuk ke Jakarta (jaman dulu untuk sampe ke Jakarta gk segampang sekarang, jadi kayanya udah jauh bgt )

Di tempat yang disinggahinya Ki Abu mempunyai kesempatan untuk menyebarkan ilmunya. Biasanya, sebelum mengajar disuatu tempat, seringkali didahului oleh pertandingan atau saling mencoba ilmu dengan tokoh pencak silat setempat. Kalau kalah tidak diizinkan mengajar disana, namun apabila menang dalam pertarungan, maka diperbolehkan untuk mengajar. Dalam adu ilmu itu, Ki Abu sering tampil sebagai pemenang, bahkan kebanyakan muridnya adalah mantan lawannya yang sempat dikalahkan terlebih dahulu.

Setelah Ki Abu wafat, penyebaran ilmu ini diteruskan oleh kedua anaknya, Ki Jeceng dan Ki Kadut yang tinggal di Menes, juga seorang murid kepercayaannya yang bernama Ki Cipluk yang tinggal di Kampung Pancur Rendang, Pandeglang (Ki Cipluk berganti nama menjadi Haji Jakaria sejak berziarah ke tanah suci).

Melalui Ki Cipluk, aliran ini makin menyebar ke berbagai pelosok. Setelah ki Cipluk meninggal (beliau di makamkan di Kampung Rokoy, Desa Kaduhejo, Pandeglang, Banten) aliran ini diwariskan oleh Ki Arba (Wafat di Kaduhejo, Pandeglang beberapa tahun lalu dalam usia 90 thn lebih) dan Ki Asnawi yang tinggal di Kadutunggul (Saya belum ada kabar terbaru tentang Ki Nawi, kalau beliau masih hidup mungkin saat ini usianya sudah menginjak 81 tahun.

Oya, hamper lupa, Ki Abu Arwanta sendiri meninggal dan dimakamkan di Jakarta (Cuma saya lupa tepatnya dimana).

Yang jelas hingga saat ini, di Banten pencak silat ini masih terus hidup dan berkembang tetap dengan cara-cara tradisional, tapi di beberapa daerah sudah diadopsi kedalam beberapa perguruan. Misalnya: Perguruan Pencak Silat Manderaga di Bandung, Perguruan Pencak Silat Sabrang Girang di Bandung, dan Perguruan Pencak Silat Alas Banten di Banyuwangi pada tingkat tertentu mempelajari aliran pencak silat ini.

Untuk daerah-daerah lain saya kurang tahu, mungkin ada rekan-rekan yang bisa Bantu perguruan apa dan didaerah mana yang mengadopsi aliran ini baik sebagian atau keseluruhan tekniknya, terutama yang dijakarta ya, karena di sanalah Ki Abu banyak menghabiskan waktunya semasa hidup.

1 comment:

Anonymous said...

Ini seperti tulisan saya (Gending Raspuzi, murid Ki Arba dan Ki Asnawi Pandeglang Banten).