Catatan pertama yang saya posting ini merupakan silat dari Banten, tepatnya Pandeglang. Meskipun saat ini Banten sudah terpisah dari provinsi Jawa Barat, namun karena alasan yang bersifat subjektif, saya tetap menganggap Banten merupakan Sunda.
Alasan-alasan subjektif tersebut antara lain karena faktor sejarah yang menunjukkan jika Banten pernah menjadi bagian dari kerajaan Padjajaran (Bener nggak ya? Tapi masa iya sih nggak bener :p). Kedua penduduk Banten, khususnya wilayah Pandeglang, sebagian besar menggunakan bahasa Sunda. Meskipun menggunakan dialek Banten yang agak kasar kalau dibandingkan Bandung, apalagi sama Cianjur.
Karena alasan-alasan itulah, saya naikkan artikel tentang Ulin Makao ini, selain tentunya karena artikel inilah yang sudah lebih dulu siap -soalnya artikel ini pernah saya publikasikan di forum martial art-nya kaskus.
Aliran ini berkembang di daerah Banten, tepatnya berasal dari kampung sawah, Pandeglang. Karena sang pendiri aliran tidak memberikan nama resmi untuk aliran ini, dalam perkembangannya, banyak nama yang digunakan untuk menyebut aliran ini oleh praktisinya.
Ada yang menyebutnya dengan nama Ulin Abu, Ulin Sawah, Ulin Jeceng, Ulin Sabrang Girang dan bahkan -mayoritas praktisinya- tidak menyebutkan nama sama sekali. Tapi, walaupun dengan semangatnya pengembangannya yang tradisional sekali, aliran ini berkembang dengan sangat pesat dan memiliki banyak hingga ke beberapa daerah di luar Banten.
Meskipun dari segi nama tidak ada konsensus yang menyatukan para praktisinya, tapi definisi, jumlah jurus, tata cara latihan dan sejarah kelahirannya sama untuk praktisinya dimanapun mereka berada.
Tulisan tentang Ulin Makao ini saya rangkum dari berbagai sumber, diantaranya; Majalah Jurus, Majalah Duel, Buku Pencak Silat dalam tuturan Lisan masyarakat sunda, penuturan praktisi (Gending Raspudji dan H. Omar Rahayu).
Jadi selamat Menikmati.**
Sunday, March 18, 2007
Ulin Peupeuh, Gerak Rasa
Wednesday, March 14, 2007
Kredo Pendokumentasian Persilatan
Tidak bermaksud sombong, jika saya katakan masyarakat sunda memiliki peranan besar dalam perkembangan persilatan di Indonesia. Tapi memang di wilayah yang sekarang disebut jawa barat ini perkembangan dunia persilatan sangat menggembirakan. Aliran-aliran tua dan besar banyak bertebaran di berbagai pelosok di wilayah Jawa Barat. Perguruan-perguruan silat besar-kecil bertebaran dari mulai kampung-kampung di pesisir dan pegunungan hingga ke kota-kota besar seperti Bandung.
Dan tanpa bermaksud mengecilkan peranan wilayah-wilayah lain di Indonesia dalam perkembangan persilatan Indonesia jika blog ini hanya membicarakan tentang persilatan sunda. Lebih karena faktor ketertarikan saya terhadap seni beladiri sunda ini, dan tentunya, karena keterbatasan kemampuan saya untuk mendokumentasikan silat-silat dari wilayah lainnya sehingga saya harus membatasi pembicaraan pada wilayah persilatan Sunda. Terus terang, untuk persilatan sunda saja, saya sendiri tidak yakin mampu mendokumentasikan seluruh aspek yang ada didalamnya, mengingat banyaknya pernak-pernik persilatan Sunda yang harus dibahas.
Mengingat beberapa hal dari pembahasan tidak bisa dibuka kepada khalayak umum secara bebas, pembahasan tentang persilatan Sunda ini akan saya batasi hanya pada lingkup sejarah, sedikit tentang jurus dan pemaparannya, filosofi dalam batas tertentu, sosio kultural masyarakat persilatan Sunda, mitologi dalam dunia persilatan Sunda, senjata-senjata, para Mpu, kampung-kampung persilatan, dll.
Yang perlu di ingat, dan menjadi perhatian serius tentunya, bahwa, saya bukan seorang ahli sejarah profesional. Jadi penulisan sejarah aliran dan perguruan yang saya tuliskan nanti tentunya tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Yang jelas, saya selalu terbuka dengan segala kritik dan kemungkinan perbaikan atau tambahan materi dari pembaca sekalian.
Jadi, mari nikmati saja blog ini sebagai satu usaha untuk mendokumentasikan segala hal menyangkut persilatan Sunda. Sebagai sedikit bonus, saya akan mengupload beberapa koleksi video dan foto-foto yang saya miliki di blog ini.
Teriring
sepuluh jari, setangkup sembah